Agus menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku dalam pengelolaan kantin. Ia menyatakan bahwa setiap praktik yang tidak transparan atau penyimpangan, seperti penetapan harga yang tidak wajar, dapat berdampak negatif pada kesejahteraan penghuni Lapas dan pegawai.
> "Evaluasi ini bukan sekadar formalitas, tetapi upaya untuk menciptakan pengelolaan yang lebih transparan, adil, dan akuntabel. Jika ditemukan pelanggaran yang serius, kami akan mengambil langkah tegas, termasuk pemutusan kontrak," ujar Agus.
Sebagai bagian dari evaluasi, Agus menginstruksikan agar kontrak baru yang mungkin dibuat nantinya harus melibatkan kerja sama erat dengan pegawai Lapas dan Rutan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan bermanfaat bagi semua pihak.
Selain itu, Agus juga menggarisbawahi pentingnya pemerataan manfaat dari pengelolaan kantin. Ia berharap agar kantin dapat menjadi fasilitas yang mendukung kebutuhan sehari-hari warga binaan dengan harga yang wajar, sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan yang dapat mendukung operasional lembaga.
Langkah evaluasi ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi dalam pengelolaan kantin, menghapus praktik-praktik yang tidak sehat, serta menciptakan sistem yang lebih berorientasi pada kepentingan bersama. Dengan demikian, keberadaan kantin di Lapas dan Rutan dapat benar-benar memberikan manfaat optimal bagi para pegawai, warga binaan, dan masyarakat luas.
Agus menutup dengan optimisme bahwa kebijakan ini akan membawa perubahan positif di lingkungan Lapas dan Rutan. "Kita harus memastikan bahwa semua pihak yang terlibat memprioritaskan prinsip keadilan, kepatuhan, dan kebermanfaatan bersama," tegasnya.(*)






