REALNEWS | LUWU,Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu dinilai lalai dalam menjamin ketersediaan vaksin untuk bayi.
Kelangkaan vaksin, termasuk BCG dan DPT-HB-Hib 1, di sejumlah Posyandu dan Puskesmas di wilayah tersebut mengancam program imunisasi dan kesehatan bayi di bawah usia satu tahun.
Salah satu warga Bua Bang JAS, mengeluhkan hal ini saat mendampingi cucunya yang berusia 2 bulan untuk imunisasi di Posyandu Desa Tanarigella, Kecamatan Bua, Selasa (11/03/2024).
Menurutnya, vaksin BCG yang seharusnya diberikan saat bayi berusia 1 bulan tidak tersedia sejak Februari lalu.“Bulan lalu dijanjikan Maret akan ada, tapi hingga sekarang masih kosong. Vaksin DPT-HB-Hib 1 juga tidak ada,” ujarnya.
Bang JAS menambahkan, vaksin PCV 1 yang seharusnya diberikan pada bayi usia 2 bulan juga tidak tersedia. Petugas Posyandu menjelaskan, stok vaksin tersebut telah kosong selama beberapa bulan.
“Ini sangat disayangkan. Kekosongan vaksin bisa memicu wabah penyakit seperti difteri, campak, tetanus, dan hepatitis B,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dampak kelangkaan vaksin terhadap jadwal imunisasi.
“BCG sangat penting untuk bayi. Penundaan imunisasi akan mengacaukan jadwal dan berisiko pada kesehatan anak,” ucap Bang JAS.
Ia juga menyoroti dampak kelangkaan vaksin terhadap jadwal imunisasi.
“BCG sangat penting untuk bayi. Penundaan imunisasi akan mengacaukan jadwal dan berisiko pada kesehatan anak,” ucap Bang JAS.
Seorang petugas Posyandu di Desa Tanarigella yang enggan disebutkan namanya mengaku prihatin dengan kondisi ini.
“Kami merasa tidak enak pada warga karena tidak bisa memenuhi kebutuhan vaksin. Padahal, kegiatan imunisasi harus tetap berjalan,” ujarnya.
“Kami merasa tidak enak pada warga karena tidak bisa memenuhi kebutuhan vaksin. Padahal, kegiatan imunisasi harus tetap berjalan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu, dr. Rosnawary Basir, menjelaskan bahwa pengadaan vaksin dilakukan melalui jalur pusat, sehingga membutuhkan waktu untuk sampai ke tingkat kabupaten.
“Kami terus berkoordinasi dengan provinsi melalui sistem aplikasi SMILE dan grup WhatsApp untuk memantau ketersediaan vaksin,” katanya saat dikonfirmasi via WhatsApp oleh wartawan A24 Media
Rosnawary mengakui, ketersediaan vaksin di tingkat provinsi untuk periode Januari-Maret 2024 tidak menyeluruh.
“Beberapa item vaksin memang kosong. Kami rutin mengambil vaksin, tetapi tidak semua jenis tersedia sesuai permintaan,” ujarnya.
Rosnawary mengakui, ketersediaan vaksin di tingkat provinsi untuk periode Januari-Maret 2024 tidak menyeluruh.
“Beberapa item vaksin memang kosong. Kami rutin mengambil vaksin, tetapi tidak semua jenis tersedia sesuai permintaan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Dinkes Luwu akan segera mengambil vaksin yang tersedia di provinsi dan mendistribusikannya ke Puskesmas.
“Kekosongan vaksin tidak hanya terjadi di Kabupaten Luwu, tetapi juga di kabupaten lainnya. Proses penyediaan vaksin dari pusat ke provinsi, lalu ke kabupaten, membutuhkan waktu. Kami terus memantau melalui aplikasi SMILE dan grup WhatsApp. Jika ada vaksin yang tersedia, kami langsung menjemput dan mendistribusikannya,” pungkas Rosnawary.
“Kekosongan vaksin tidak hanya terjadi di Kabupaten Luwu, tetapi juga di kabupaten lainnya. Proses penyediaan vaksin dari pusat ke provinsi, lalu ke kabupaten, membutuhkan waktu. Kami terus memantau melalui aplikasi SMILE dan grup WhatsApp. Jika ada vaksin yang tersedia, kami langsung menjemput dan mendistribusikannya,” pungkas Rosnawary.
Kekosongan vaksin ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan petugas kesehatan. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini agar program prioritas kesehatan, terutama imunisasi bayi, tidak terus terganggu.(**)






