REAL NEWS | Biak Utara, Papua – Di Desa Saukobye, Distrik Biak Utara, banyak anak-anak belum bisa menikmati pendidikan sebagaimana mestinya. Alih-alih duduk di bangku sekolah, sebagian besar dari mereka harus membantu orang tua: ada yang ikut berjualan di pasar, melaut mencari ikan, hingga bekerja di kebun. Kondisi ini membuat sebagian anak Papua tidak dapat mengikuti pendidikan secara penuh, bahkan ada yang terpaksa berhenti sekolah.
Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahardika Bakti Nusantara (MBN) generasi ke-10 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menghadirkan inovasi dengan memperkenalkan tiga model pendidikan alternatif: sekolah formal, sekolah pos, dan sekolah alam.
Tiga Model Pendidikan
Melalui sekolah formal, anak-anak tetap memperoleh materi sesuai kurikulum nasional. Namun, MBN menyadari tidak semua anak bisa hadir ke sekolah setiap hari. Karena itu, mereka menghadirkan sekolah pos, yakni kelas-kelas kecil yang dibuka di dekat rumah warga agar anak-anak tetap bisa belajar meski di sela-sela membantu orang tua.
Selain itu, ada pula sekolah alam yang memanfaatkan kebun, pantai, dan ruang terbuka sebagai media belajar. Di sini, anak-anak diajak membaca, berhitung, serta mengenal lingkungan sekitar dengan metode yang menyenangkan. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan pada alam dan budaya lokal.
Harapan dan Keberlanjutan
Ketua MBN, Andi Muhammad Raihan Al Furqan, menegaskan bahwa program ini lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.
“Kami ingin pendidikan tidak hanya berhenti di gedung sekolah, tetapi juga hadir di pos-pos kecil bahkan di alam terbuka. Harapannya, anak-anak Papua tumbuh sebagai generasi yang cerdas, berdaya, dan tetap dekat dengan budaya mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsep ini diharapkan berlanjut setelah program KKN berakhir. MBN mendorong masyarakat, guru lokal, hingga pemerintah daerah untuk mengadopsi model ini sebagai kebijakan pendidikan berbasis kebutuhan masyarakat.
Dukungan Masyarakat
Inisiatif ini mendapat sambutan positif dari orang tua dan tokoh masyarakat setempat. Mereka melihat semangat baru bagi anak-anak yang sebelumnya jarang tersentuh pendidikan.
“Anak-anak kami butuh semangat dan teman belajar. Dengan adanya sekolah pos dan sekolah alam, mereka bisa tetap belajar walau harus membantu orang tua di kebun atau melaut. Ini sangat membantu,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Desa Saukobye.
Inspirasi bagi Daerah Terpencil
Program pendidikan Mahardika Bakti Nusantara di Papua menunjukkan bahwa pendidikan bisa hadir dengan cara yang lebih fleksibel, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Model ini diharapkan menjadi inspirasi bagi komunitas lain maupun pemerintah daerah untuk memperluas akses pendidikan di wilayah-wilayah terpencil Indonesia.






