REAL NEWS | Upaya pelestarian kawasan pesisir melalui penanaman mangrove menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dalam kurun waktu 2022 hingga 2024, PT Masmindo Dwi Area (MDA) secara rutin menyalurkan bantuan bibit mangrove guna mendukung program penghijauan di sejumlah wilayah pesisir. Salah satu lokasi yang menjadi fokus kegiatan ini adalah kawasan pantai Pelabuhan Tadette, Desa Senga Selatan, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu.
Perwakilan Lembaga Konservasi Mangrove Indonesia, Genaro, menyampaikan bahwa total bibit mangrove yang disalurkan selama periode tersebut mencapai sekitar 7.800 batang. Penanaman dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat setempat, mulai dari proses penanaman hingga pemeliharaan.
Dari total bibit yang ditanam, sekitar 5.000 pohon mangrove dilaporkan tumbuh dengan baik. Angka ini dinilai cukup tinggi, mengingat kondisi pesisir yang rentan terhadap berbagai tantangan seperti perubahan cuaca, pasang surut air laut, serta aktivitas manusia.
“Pertumbuhannya cukup baik. Saat ini tinggi mangrove sudah berkisar antara 150 hingga 170 sentimeter, menandakan tanaman mampu beradaptasi dengan lingkungan,” ujar Genaro, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, ribuan mangrove tersebut ditanam di area seluas kurang lebih 3,5 hektare yang tersebar di beberapa titik pesisir. Penentuan lokasi dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan lingkungan dan kebutuhan rehabilitasi ekosistem mangrove.
Genaro menambahkan, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain berfungsi sebagai pelindung dari abrasi dan gelombang laut, mangrove juga menjadi habitat berbagai biota laut serta mendukung sumber penghidupan masyarakat, khususnya nelayan.
“Selain bernilai ekologis, mangrove juga memiliki manfaat ekonomi. Banyak masyarakat yang menggantungkan hidup pada ekosistem ini, baik dari sektor perikanan maupun potensi wisata berbasis lingkungan,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari sinergi antara perusahaan, lembaga konservasi, dan masyarakat lokal yang terlibat aktif dalam menjaga dan merawat mangrove.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan program penghijauan tersebut.
“Dengan partisipasi langsung, masyarakat diharapkan memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam menjaga kelestarian mangrove ke depan,” tuturnya.
Genaro berharap program penanaman mangrove yang telah berjalan selama tiga tahun ini dapat terus dilanjutkan bahkan diperluas ke wilayah pesisir lainnya yang membutuhkan rehabilitasi.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut serta mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi,” pungkasnya.
Dengan hasil yang telah dicapai, program ini diharapkan menjadi contoh praktik baik dalam pelestarian lingkungan berbasis kolaborasi, sekaligus memperkuat ketahanan kawasan pesisir terhadap dampak perubahan iklim.(*)

